Bulog Sumut: Beras Saset Bisa Menjadi Pilihan untuk Menangani Kenaikan Harga

by -2122 Views

MEDAN, Waspada.co.id – Di tengah tekanan harga beras yang belum juga reda, Perum Bulog Sumatera Utara membuka kembali opsi lama yang sempat tenggelam: beras kemasan saset. Skema ini dinilai bisa menjadi alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat, terutama saat harga beras premium dan medium masih bertahan di atas harga eceran tertinggi.

Opsi Beras Murah di Tengah Harga yang Masih Tinggi

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumatera Utara Arif Mandu menyebut gagasan menghidupkan lagi beras saset bukan tanpa alasan. Menurut dia, langkah tersebut cukup masuk akal karena menyasar konsumen yang membutuhkan beras dalam porsi kecil dengan harga lebih ringan. Ia menanggapi rencana Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso yang kembali mendorong kebijakan itu pada Senin (27/11).

Beras saset sendiri pernah diproduksi Bulog pada 2018. Saat itu, beras dikemas dalam plastik berisi 200 gram dan dijual Rp2.500 per saset. Namun, produk tersebut akhirnya dihentikan karena minat pasar rendah. Banyak keluarga dinilai tidak tertarik membeli beras dalam ukuran terlalu kecil, sebab jika 200 gram dimasak, hasilnya hanya sekitar tiga piring nasi.

Lebih Cocok untuk Konsumen dengan Kebutuhan Harian Kecil

Arif menilai beras kemasan saset justru lebih relevan untuk kelompok tertentu, seperti mahasiswa yang tinggal di kos-kosan atau buruh yang hidup sendiri. Dengan porsi kecil, produk ini bisa menjadi pilihan praktis tanpa harus membeli beras dalam jumlah besar.

Ia juga menegaskan bahwa jika Perum Bulog memutuskan memproduksi beras saset lagi, Bulog Sumut siap menyalurkannya di wilayah Sumatera Utara. Bagi Bulog daerah, langkah ini bisa menjadi salah satu cara memperluas pilihan masyarakat di tengah kondisi harga pangan yang belum stabil.

Harga Beras di Sumut Masih Melampaui HET

Di Sumatera Utara, tekanan harga beras masih terasa. Dalam sepekan terakhir, rata-rata harga beras medium berada di kisaran Rp13.500 hingga Rp13.610 per kilogram, sementara harga eceran tertinggi hanya Rp11.500 per kilogram. Untuk beras premium, harga rata-rata tercatat Rp14.580 sampai Rp14.700 per kilogram, lebih tinggi dari HET sebesar Rp14.400 per kilogram.

Arif mengatakan Bulog Sumut tetap menjalankan berbagai langkah untuk menahan laju kenaikan harga, termasuk distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyaluran bantuan pangan. Upaya itu dilakukan agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap beras dengan harga yang lebih terkendali di tengah situasi pasar yang belum sepenuhnya normal.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.