Birgadir Jenderal TNI (Purn) Aloysius Benedictus Mboi

by -33 Views

Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku Kepemimpinan Militer 1: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto]

Dokter Ben Mboi, saya bertemu dengannya setelah beliau pensiun. Beliau telah pensiun sebagai seorang tentara dan juga sebagai gubernur Nusa Tenggara Timur. Di kalangan TNI, beliau dikenal sebagai seorang dokter militer yang ikut terjun bersama pasukan baret merah (RPKAD) saat operasi pembebasan Irian Barat. Saat itu, komandan kompi yang diterjunkan adalah Kapten Benny Moerdani, yang kemudian menjadi Menhan dan Pangab pada tahun 1980-an. Pak Ben Mboi adalah dokter yang berada di kompi Pak Benny Moerdani yang terlibat dalam operasi di Merauke.

Dari beberapa kali pertemuan saya dengan Pak Ben Mboi, beliau banyak bercerita tentang pengalaman-pengalamannya. Salah satunya adalah kisah naik pesawat Hercules untuk terjun di Irian Barat. Saat itu, Panglima Komando Mandala, Mayor Jenderal TNI Soeharto yang kemudian menjadi jenderal dan akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia, yang melepas pasukan yang dipimpin oleh Pak Benny Moerdani, termasuk Pak Ben Mboi yang masih berpangkat Letnan Satu. Saat itulah, Pak Soeharto menyampaikan sambutan singkat kepada pasukan yang akan diterjunkan.

Pak Ben Mboi menceritakan bahwa di bawah desing mesin pesawat yang sangat bising, Pak Soeharto menyampaikan bahwa kemungkinan pasukan tidak akan kembali lebih dari 50%. Namun, tidak ada yang keluar barisan saat Pak Soeharto memberikan kesempatan kepada mereka yang ragu-ragu untuk keluar dari barisan.

Selain itu, Pak Ben Mboi juga menceritakan bahwa setelah pensiun dari jabatan sebagai gubernur, anak buahnya menyadari bahwa beliau tidak memiliki rumah. Mereka pun menggalang dana dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah serta beberapa pengusaha lokal untuk membangun rumah untuk Pak Ben Mboi. Hal ini menunjukkan betapa banyak prajurit yang mengabdikan seluruh karirnya untuk negara, namun pensiun tanpa memiliki rumah karena tidak mencari keuntungan pribadi. Anak buahnya pun berusaha untuk memberikan imbalan yang pantas.

Salah satu pelajaran yang saya terima dari Pak Ben Mboi adalah bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, kita harus mencintai rakyat dan menggunakan akal sehat. Beliau selalu mengatakan, “Prabowo, kalau mau jadi pemimpin yang baik, saya hanya bisa anjurkan 2 hal. Pertama, cintai rakyatmu dan kedua, gunakan akal sehatmu, kau tidak akan meleset.”

Hal ini selalu saya ingat. Sebagai pemimpin, kita harus mencintai rakyat dan anak buah kita. Selain itu, kita juga harus menggunakan akal sehat, tidak terlalu mengada-ada. Dari situlah saya ingat pepatah Jawa “Ojo Rumongso Iso, Nanging Iso Rumongso.” Pemimpin tidak boleh merasa bisa, tetapi harus bisa merasakan perasaan, penderitaan, dan kebutuhan orang lain. Ungkapan ini sangat mendalam bagi saya. Dari Pak Ben Mboi, “Love Your People, Use Your Common Sense” menjadi pegangan saya.

Source link