Prabowo Di Hadapan Presiden Brasil: BRICS Pewaris Semangat Non-Blok Konferensi Bandung

by -180 Views

Prabowo di Hadapan Presiden Brasil: BRICS Pewaris Semangat Non-Blok Konferensi Bandung

Di tengah sorotan dunia terhadap arah baru politik global, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva memilih membuka KTT BRICS ke-17 dengan pesan yang tegas: forum ini bukan sekadar kerja sama ekonomi, melainkan kelanjutan dari semangat Konferensi Bandung. Dalam pidato pembukaannya di Museum Seni Modern (MAM), Rio de Janeiro, Lula menempatkan BRICS sebagai wadah negara-negara yang ingin berdiri sejajar tanpa tunduk pada dominasi kekuatan besar.

Presiden RI Prabowo Subianto hadir dalam forum tersebut sebagai wakil Indonesia, negara yang baru bergabung penuh dengan BRICS. Kehadiran Prabowo menjadi penanda penting bagi posisi Indonesia dalam percaturan diplomasi internasional, terutama di tengah menguatnya kerja sama antarnegara Selatan yang ingin memperbesar pengaruh di panggung dunia.

Lula Kaitkan BRICS dengan Semangat Bandung

Lula menegaskan bahwa BRICS mewarisi roh yang dulu lahir dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Menurut dia, semangat itu menolak logika blok besar yang memaksa negara lain memilih keberpihakan. Dalam kerangka itu, BRICS dipandang sebagai ruang bagi negara berkembang untuk membangun hubungan yang lebih setara dan tidak bergantung pada satu pusat kekuatan saja.

Pernyataan tersebut sekaligus memberi arah politik yang jelas bagi forum ini. BRICS tidak lagi dibaca semata sebagai kelompok negara dengan kepentingan ekonomi bersama, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap tatanan global yang dinilai makin timpang. Di hadapan para pemimpin dunia, Lula mencoba menegaskan bahwa suara negara-negara berkembang tetap punya tempat dalam menentukan masa depan dunia.

Kritik terhadap Melemahnya Multilateralisme

Dalam pidato yang sama, Lula menyoroti kondisi multilateralisme yang menurutnya sedang mengalami kemunduran. Ia mengingatkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dulu dipandang sebagai harapan kolektif umat manusia, kini tidak lagi berada dalam posisi sekuat sebelumnya. Kritik itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan menipisnya kepercayaan terhadap mekanisme kerja sama global.

Bagi Lula, BRICS hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan yang lebih inklusif. Forum ini, kata dia, harus menjadi alat untuk memperkuat persahabatan antarnegara anggota sekaligus menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak boleh dimonopoli oleh satu poros kekuatan.

Posisi Baru Indonesia di BRICS

Masuknya Indonesia sebagai anggota penuh BRICS sejak 1 Januari 2025 menambah bobot politik kehadiran Prabowo di Rio de Janeiro. Indonesia kini berada di dalam forum yang semakin luas, dengan agenda yang tidak hanya berkutat pada ekonomi, tetapi juga pada isu-isu strategis yang menyentuh tata kelola global.

KTT BRICS ke-17 membahas sejumlah topik penting, mulai dari reformasi tata kelola global, penguatan multilateralisme, kerja sama ekonomi dan keuangan, tata kelola kecerdasan buatan, lingkungan dan aksi iklim, hingga kesehatan global. Rangkaian agenda itu menunjukkan bahwa BRICS ingin tampil lebih dari sekadar blok perdagangan, melainkan juga ruang politik untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.