Aston Martin Lepas Sebagian Saham Tim F1, Opsi Go Private Makin Terbuka
Aston Martin sedang bergerak cepat di tengah tekanan yang menumpuk dari dua arah sekaligus: tarif impor Amerika Serikat dan lesunya permintaan di Cina. Produsen mobil mewah asal Inggris itu kini menyesuaikan strategi bisnisnya setelah sebelumnya berharap bisa mencetak laba, namun justru memperkirakan baru akan mencapai titik impas pada akhir 2025. Di saat yang sama, perusahaan memilih langkah tak biasa dengan menjual sebagian kepemilikannya di tim Formula 1 demi memperkuat kondisi keuangan.
Langkah finansial di tengah tekanan pasar
Dalam kesepakatan terbaru, Aston Martin melepas sebagian saham di tim F1 dengan nilai sekitar 146 juta dolar AS. Penjualan ini disebut tidak akan mengganggu operasi maupun identitas tim di lintasan. Nama Aston Martin juga tetap melekat melalui kerja sama komersial jangka panjang yang membuat tim itu masih tampil sebagai Aston Martin Aramco Formula One Team.
Keputusan ini menunjukkan bahwa Aston Martin tidak hanya sedang mencari dana segar, tetapi juga berusaha menjaga citra merek di panggung balap dunia. Bagi perusahaan, Formula 1 tetap penting sebagai etalase global, meski beban keuangan membuat aset tersebut kini ikut dimanfaatkan untuk menopang likuiditas.
Kendali Lawrence Stroll kian menguat
Di sisi lain, Yaw Tree Investments yang dipimpin Lawrence Stroll akan menambah porsi kepemilikannya di Aston Martin. Kepemilikan mereka disebut naik dari 27,67 persen menjadi 33 persen setelah suntikan dana tambahan. Perkembangan ini ikut memunculkan spekulasi bahwa Aston Martin bisa saja bergerak menuju status perusahaan tertutup atau go private.
Para analis menilai skenario itu berpotensi memberi ruang gerak yang lebih lincah bagi Aston Martin. Dengan tidak lagi terikat penuh pada tekanan pasar saham, perusahaan bisa lebih leluasa mencari mitra jangka panjang dan mengurangi beban administratif maupun biaya kepatuhan yang menyertai status perusahaan terbuka.
Masih punya pasar, tapi pekerjaan rumah belum selesai
Meski harga saham Aston Martin telah turun tajam sejak melantai di bursa pada 2018, perusahaan masih memiliki satu modal penting: pelanggan kelas atas yang relatif lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. Basis pembeli kaya ini membuat permintaan mobil mewah Aston Martin tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi pasar massal.
Namun, keunggulan itu belum cukup untuk menyelesaikan masalah utama perusahaan. Aston Martin masih harus menekan biaya dan memperbaiki marjin kotor yang diperkirakan belum akan pulih sebelum 2027 atau bahkan lebih lama. Dengan tekanan dari pasar global dan kebutuhan pendanaan yang terus mendesak, manajemen kini berada dalam fase krusial untuk menentukan arah baru perusahaan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





