Program Cek Kesehatan Gratis Sekolah Dibuka, Sasar 53 Juta Pelajar di Indonesia
Pemerintah mulai mempercepat pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk pelajar di seluruh Indonesia, dengan Jawa Barat menjadi salah satu daerah yang paling awal menjalankannya. Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai pemeriksaan kesehatan biasa, tetapi juga sebagai upaya memetakan kondisi fisik dan mental anak usia sekolah sejak dini, sebelum gangguan kesehatan berkembang lebih jauh.
Jawa Barat Jadi Titik Awal Pelaksanaan
Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono memantau langsung peluncuran program di SD Prestasi Global, Depok, pada Senin. Ia menyebut kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi serentak di 19 kota dan kabupaten di Jawa Barat, sekaligus masuk dalam agenda Quick Win Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas layanan kesehatan yang merata, bermutu, dan terjangkau.
“Hari ini kita meluncurkan program CKG di SD Prestasi Global di Depok sebagai bagian dari implementasi serentak di 19 kota dan kabupaten di Jawa Barat,” kata Prof. Dante.
Fokus ke Siswa SD, Pemeriksaan Dibuat Lebih Spesifik
Program ini ditargetkan menjangkau sekitar 53 juta pelajar di Indonesia pada 2025. Menurut Prof. Dante, pendekatan yang dipakai berbeda dari pemeriksaan kesehatan yang selama ini sudah berjalan. Jika sebelumnya sasaran lebih banyak orang dewasa dan lanjut usia, CKG sekolah kali ini diarahkan khusus untuk siswa sekolah dasar.
“Perbedaannya terletak pada kelompok usia yang diperiksa. Kali ini, kita fokus khusus pada siswa SD, sementara kegiatan sebelumnya melibatkan orang dewasa dan lansia,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemeriksaan yang disesuaikan dengan usia akan membuat hasil lebih tepat dan relevan. Karena itu, mekanisme CKG tidak disamaratakan untuk semua peserta, melainkan disusun mengikuti kebutuhan masing-masing jenjang pendidikan.
“Untuk memastikan ketepatan, proses pemeriksaan harus disesuaikan dengan setiap kelompok usia,” katanya.
Dimulai di Awal Tahun Ajaran, Lebih Mudah Dijangkau
Pelaksanaan CKG sengaja ditempatkan di awal tahun ajaran baru agar kondisi kesehatan siswa bisa diketahui sejak awal. Skema ini juga dinilai lebih efisien karena tenaga kesehatan datang langsung ke sekolah, sehingga tidak perlu mengatur perpindahan banyak siswa ke puskesmas.
“Lebih rumit untuk membawa anak-anak ke puskesmas. Koordinasi akan lebih sulit. Lebih efisien bagi petugas kesehatan untuk datang ke sekolah,” tambah Prof. Dante.
Pemeriksaan yang dilakukan mencakup kebugaran fisik, penglihatan, tekanan darah, hingga status imunisasi. Siswa kelas satu menerima vaksin MR atau Campak-Rubella, sedangkan siswa kelas lima mendapat vaksin HPV sebagai bagian dari langkah pencegahan kanker serviks secara nasional.
843 Siswa Diperiksa di SD Prestasi Global
Kepala SD Prestasi Global, Mustopa, mengatakan ada 843 siswa yang menjalani pemeriksaan pada hari peluncuran. Dari jumlah itu, 143 siswa juga menerima imunisasi.
Ia menjelaskan, pihak sekolah sudah lebih dulu memberi pemberitahuan kepada orang tua agar pelaksanaan berjalan lancar. Mustopa menyebut sekolahnya bangga menjadi sekolah pertama di Indonesia, sekaligus perwakilan Jawa Barat, yang ikut dalam program cek kesehatan gratis nasional untuk siswa SD.
“Kami telah memberitahukan kepada orangtua sebelumnya bahwa kegiatan CKG akan dilaksanakan hari ini. Prestasi Global bangga menjadi sekolah pertama di Indonesia—dan perwakilan untuk Provinsi Jawa Barat—yang berpartisipasi dalam inisiatif cek kesehatan gratis nasional untuk siswa SD,” ujarnya.
Kesehatan Mental Juga Dipantau
Selain kondisi fisik, pemerintah juga memasukkan aspek kesehatan mental dalam program ini. Untuk siswa SMP dan SMA, pemeriksaan dilakukan secara langsung. Sementara pada siswa SD, penilaian dilakukan tidak langsung melalui kuesioner yang diisi orang tua.
Prof. Dante mengatakan cara itu dipilih karena penilaian kesehatan mental pada anak yang lebih kecil membutuhkan pendekatan yang berbeda.
“Lebih sulit untuk menilai kesehatan mental secara langsung pada anak-anak yang lebih muda, jadi kami memprioritaskan aspek tersebut untuk siswa SMP dan SMA,” jelasnya.
Program CKG juga melibatkan kerja lintas sektor, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan, otoritas registrasi sipil, serta lembaga yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

