Alasan General Motors dan BMW Masih Mengandalkan Baterai EV Cina

by -175 Views

Meski gelombang produksi kembali ke Amerika Serikat terus digencarkan, rantai pasok kendaraan listrik belum benar-benar lepas dari Cina. Di tengah tarik-menarik antara kebijakan, biaya, dan kebutuhan pasar, General Motors dan BMW masih berada di posisi yang serba rumit: selama kredit pajak federal senilai 7.500 dolar untuk mobil listrik tetap berlaku, keduanya cenderung bertahan dengan baterai buatan AS. Namun begitu insentif itu berakhir, pintu untuk kembali mengandalkan baterai murah dari Cina bisa terbuka lebar.

Biaya Masih Menjadi Penentu Utama

Bagi General Motors, keputusan soal baterai tidak semata-mata soal politik atau citra industri domestik. Pemasok utamanya, LG Energy Solution, memang tengah menyiapkan fasilitas produksi lokal. Tetapi GM disebut masih berpeluang membeli baterai lithium iron phosphate atau LFP dari CATL, produsen baterai terbesar di dunia, jika skema insentif berubah. Dengan kata lain, perusahaan ini tetap menghitung efisiensi biaya dan daya saing sebagai faktor yang sama pentingnya dengan ambisi memperkuat produksi dalam negeri.

BMW menghadapi dilema yang tidak jauh berbeda. Pemasok baterainya, AESC, juga disebut dapat mengimpor baterai dari Cina. Situasi ini memperlihatkan bahwa dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok Cina belum benar-benar memutus hubungan industri otomotif global dengan negara tersebut. Di lapangan, produsen besar masih harus memilih antara keamanan pasokan lokal dan harga komponen yang lebih kompetitif.

Cina Menahan Laju Perang Harga

Di sisi lain, pemerintah Cina mulai memperketat kendali atas perang harga yang selama ini mewarnai pasar mobil listrik domestik. Diskon besar-besaran yang kerap dipakai produsen untuk mengejar penjualan kini dibatasi karena dianggap tidak sehat bagi industri. Langkah ini muncul ketika penjualan mobil di Cina pada Juli hanya naik 6,3%, lebih lambat dari pola pertumbuhan yang biasa terjadi.

Pejabat pemerintah juga telah meminta produsen mobil listrik menghentikan penawaran diskon yang dinilai tidak masuk akal. Intervensi tersebut menandai perubahan penting di pasar yang sebelumnya sangat bergantung pada agresivitas harga untuk menjaga volume penjualan. Saat pasar Cina mulai diarahkan ke kondisi yang lebih terkendali, efeknya berpotensi terasa hingga ke produsen global yang masih bergantung pada komponen serta strategi harga dari sana.

Pengisian Daya EV Juga Ikut Bergeser

Perubahan tidak hanya terjadi di sektor baterai. Infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik juga sedang mengalami penataan ulang. Shell disebut akan membongkar stasiun pengisian daya Volta pada tahun ini. Ke depan, perusahaan pengisian daya mobil listrik diperkirakan akan lebih memusatkan perhatian pada stasiun yang lebih mewah dan berdaya lebih tinggi, menandai pergeseran dari ekspansi massal menuju model bisnis yang lebih selektif.

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan satu hal yang sama: pasar kendaraan listrik belum bergerak dalam arah yang benar-benar lurus. Di satu sisi, Amerika Serikat berusaha memperkuat produksi lokal. Di sisi lain, tekanan biaya masih membuat baterai Cina tetap relevan. Bagi GM dan BMW, pilihan terbaik bukan sekadar soal asal komponen, melainkan soal bagaimana menjaga harga tetap masuk akal di tengah persaingan yang belum menunjukkan tanda melambat.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.