CEO Mercedes, Ola Källenius, kembali mengingatkan bahwa ambisi besar Eropa menuju mobil listrik tidak bisa dijalankan dengan cara tergesa-gesa. Menurutnya, jika larangan penjualan mobil bermesin pembakaran internal dipaksakan tanpa penyesuaian, industri otomotif kawasan itu justru bisa terpukul keras.
Mercedes Tak Lagi Melihat Transisi Sebagai Perkara Sederhana
Di tengah dorongan Uni Eropa untuk mempercepat dekarbonisasi, posisi produsen mobil kini semakin rumit. Mercedes-Benz, yang sebelumnya tampak optimistis menyambut era kendaraan listrik, kini menilai transisi tersebut perlu dijalankan dengan lebih hati-hati. Källenius menegaskan bahwa target lingkungan tetap penting, tetapi kebijakan yang terlalu kaku bisa membawa dampak ekonomi yang tidak kecil bagi pabrikan, pemasok, hingga pasar konsumen.
Ia menilai perubahan besar dalam industri otomotif tidak bisa hanya dilihat dari sisi emisi. Ada rantai produksi, investasi teknologi, kesiapan infrastruktur, dan daya beli masyarakat yang juga harus masuk dalam perhitungan. Tanpa itu semua, aturan yang dimaksudkan untuk mempercepat perubahan justru berpotensi menimbulkan gejolak.
Pangsa Kendaraan Listrik Belum Menjadi Mayoritas
Källenius mengacu pada data yang menunjukkan bahwa pangsa pasar mobil listrik dan plug-in hybrid baru mencapai sekitar 17,5 persen dari total penjualan di wilayah Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara EFTA. Sementara itu, mobil hibrida plug-in hanya menyumbang 8,7 persen dari total pengiriman.
Angka tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya siap meninggalkan mesin pembakaran internal. Ia menilai larangan penjualan mobil konvensional sebelum 2035 masih perlu dikaji dengan cermat, karena adopsi kendaraan listrik murni belum merata di seluruh segmen dan wilayah.
Antara Target Nol Emisi dan Realitas Bisnis
Meski larangan penjualan mobil berbahan bakar konvensional sebelum 2035 belum resmi diterapkan, Komisi Eropa sudah menegaskan komitmennya untuk mencapai nol emisi CO₂ pada mobil baru. Namun, di sisi lain, pasar menunjukkan dinamika yang lebih lambat dari ekspektasi kebijakan.
Mercedes sendiri merasakan tekanan itu secara langsung. Pada paruh pertama 2025, penjualan mobil listrik perusahaan tersebut baru mencapai 8,4 persen dari total pengiriman global. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ambisi industri dan kenyataan pasar masih belum benar-benar bertemu di titik yang sama.
Ruang untuk Hibrida Masih Terbuka
Dalam situasi seperti ini, kendaraan hibrida plug-in masih dipandang sebagai jembatan penting di masa transisi. Källenius berharap kebijakan Eropa tidak menutup ruang bagi teknologi peralihan tersebut, terutama ketika elektrifikasi penuh belum bisa dijalankan secara seragam di semua pasar.
Perdebatan soal masa depan mobil bermesin bensin kini bukan lagi sekadar soal teknologi, melainkan soal seberapa cepat Eropa siap mengubah seluruh ekosistem otomotifnya tanpa merusak fondasi industrinya sendiri.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





