Prabowo’s Plan for 30 New Medical Schools: Doctors’ Approval

by -206 Views

Prabowo Siapkan 30 Sekolah Kedokteran Baru, Dokter RS PON Anggap Langkah Ini Mendesak

Di tengah perbincangan panjang soal minimnya tenaga kesehatan di Indonesia, rencana Presiden Prabowo untuk membangun 30 sekolah kedokteran baru dan 500 rumah sakit berkualitas tinggi dalam empat tahun ke depan langsung menyita perhatian kalangan dokter. Bagi sebagian tenaga medis, kebijakan ini bukan sekadar program besar di atas kertas, melainkan jawaban atas masalah yang sudah terlalu lama terasa di lapangan.

Respons positif itu mengemuka dari lingkungan RS Pusat Saraf Nasional Mahar Mardjono (RS PON) Jakarta, rumah sakit yang baru saja menjadi sorotan setelah Presiden Joko Widodo meresmikan Gedung Pelayanan Terpadu dan Institut Nasional Neurosains (INN). Di tengah momentum tersebut, rencana pemerintah di bawah Prabowo dinilai sejalan dengan kebutuhan mendesak untuk memperkuat layanan kesehatan sekaligus menambah jumlah dokter di Indonesia.

Langkah untuk Menutup Kesenjangan Dokter

Dr. Ana, dokter gawat darurat di RS PON, menilai target pembangunan sekolah kedokteran baru itu sebagai kebijakan penting untuk mengejar ketertinggalan jumlah dokter di Indonesia. Menurut dia, persoalan pemerataan tenaga medis dan kualitas layanan bukan hal baru, sehingga butuh terobosan yang benar-benar menyentuh akar masalah, bukan sekadar wacana jangka pendek.

Ia menyebut rencana tersebut sebagai inisiatif yang mulia. Di saat yang sama, Dr. Ana menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, apa pun tantangan yang dihadapi sistem kesehatan.

RS PON Lihat Arah Kebijakan yang Sejalan

Dukungan serupa disampaikan Dr. Lani, dokter patologi di RS PON. Ia mengaku bangga dengan hadirnya fasilitas baru di rumah sakit tersebut dan menilai kebijakan pemerintah bisa menjadi dorongan besar untuk meningkatkan mutu layanan medis serta riset kesehatan di Tanah Air.

Menurutnya, pembangunan fasilitas dan penguatan pendidikan kedokteran tidak bisa dipisahkan. Satu sisi memperbaiki kualitas pelayanan, sementara sisi lain menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengisi kebutuhan layanan itu sendiri. Karena itu, rencana Prabowo dianggap relevan dengan kebutuhan rumah sakit dan dunia pendidikan kedokteran saat ini.

Harapan Tidak Berhenti di Pembangunan

Meski menyambut baik rencana besar tersebut, kedua dokter itu juga mengingatkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah belum selesai. Mereka menilai dukungan lanjutan tetap dibutuhkan, terutama dalam penyediaan alat kesehatan yang lebih maju dan upaya menekan biaya layanan agar lebih terjangkau bagi masyarakat.

Bagi para tenaga medis di RS PON, keberhasilan program ini akan diukur dari hasil nyata di ruang perawatan, ruang operasi, dan pusat riset, bukan hanya dari jumlah bangunan yang berdiri. Jika dijalankan konsisten, agenda 30 sekolah kedokteran dan 500 rumah sakit baru bisa menjadi titik balik bagi layanan kesehatan Indonesia.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.