Motor Listrik Mungil dari Inggris Ini Diklaim Setara Tenaga Empat Motor Tesla
Sebuah terobosan baru datang dari Inggris dan langsung mencuri perhatian industri kendaraan listrik. Yasa, perusahaan yang dikenal lewat pengembangan motor fluks aksial, memperkenalkan prototipe motor listrik terbaru dengan klaim kepadatan daya mencapai 59 kW/kg. Angka ini bukan sekadar peningkatan kecil, melainkan naik sekitar 40 persen dari rekor sebelumnya di kelas yang sama. Dengan bobot hanya 28 pound atau sekitar 12,7 kilogram, motor tersebut disebut mampu menghasilkan daya puncak hingga 750 kilowatt.
Ukuran Kecil, Tenaga Besar
Di atas kertas, kombinasi bobot ringan dan output setinggi itu terdengar hampir tak masuk akal. Namun, justru di situlah daya tarik utama prototipe ini. Dibandingkan motor Yasa sebelumnya yang mencatat kepadatan daya 42 kW/kg, versi anyar ini menunjukkan lompatan yang jauh lebih agresif. Posisinya pun langsung menonjol di antara motor listrik performa tinggi karena kapasitas tenaganya diklaim melampaui motor listrik belakang pada Tesla Model Y Standard.
Dalam perbandingan lain, Yasa juga menyebut performanya bisa mengungguli gabungan dua unit Tesla Model 3 Performance EV. Klaim tersebut menegaskan betapa padatnya tenaga yang bisa diperas dari perangkat yang ukurannya relatif mungil. Bagi industri otomotif, pencapaian seperti ini penting karena efisiensi ruang dan bobot sering menjadi kunci pengembangan mobil listrik generasi berikutnya.
Bukan Hanya Kuat Saat Puncak
Meski angka puncak sering menjadi sorotan utama, Yasa menekankan bahwa daya kontinu tak kalah penting untuk penggunaan sehari-hari. Dalam pengujian dan pengembangan yang dipaparkan perusahaan, motor fluks aksial ini mampu mempertahankan output antara 380 hingga 536 hp secara terus-menerus. Artinya, motor tersebut tidak hanya sanggup meledakkan tenaga dalam waktu singkat, tetapi juga dirancang untuk bekerja stabil dalam durasi lebih panjang.
Potensi untuk kendaraan produksi
Aspek lain yang membuat prototipe ini menarik adalah klaim bahwa produksinya tidak memerlukan bahan eksotis. Ini membuka peluang agar teknologi tersebut tidak berhenti sebagai proyek demonstrasi, melainkan bisa masuk ke kendaraan listrik produksi massal. CEO Yasa menyebut pencapaian ini sebagai hasil dari inovasi teknis yang terus dikembangkan perusahaan, sekaligus penanda arah baru penggerak listrik yang lebih ringan, efisien, dan relevan untuk kebutuhan industri otomotif ke depan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





