OMSP Diuji dalam Latihan Pengamanan Tambang di Kepulauan Timah

by -217 Views

OMSP Diuji dalam Latihan Pengamanan Tambang di Kepulauan Timah

Latihan besar TNI di Bangka Belitung pada Rabu, 19 November 2025, tidak hanya menampilkan pengerahan kekuatan militer. Di balik deru jet tempur, kapal perang, dan pasukan darat yang bergerak serempak, ada pesan yang jauh lebih tegas: negara sedang menguji keseriusannya dalam menertibkan tambang ilegal yang selama ini menggerus kekayaan timah nasional.

Dalam latihan terintegrasi itu, TNI mengerahkan 68 ribu personel dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Kegiatan serupa juga digelar di Morowali sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan nasional, terutama untuk menutup ruang gerak penambangan ilegal yang dinilai merugikan negara dan merusak lingkungan.

Bangun Tekanan terhadap Tambang Ilegal

Bangka Belitung dipilih karena wilayah ini disebut sebagai salah satu titik paling rawan aktivitas tambang timah ilegal. Jumlah lokasinya bahkan telah mencapai seribu titik lebih. Situasi itu membuat produksi timah nasional anjlok hingga 80 persen, sementara kerusakan lingkungan terus meluas dari waktu ke waktu.

Latihan ini juga menjadi tindak lanjut langsung dari instruksi Presiden Prabowo yang menempatkan perlindungan aset strategis negara sebagai prioritas. Dengan kata lain, pengamanan sumber daya alam kini diperlakukan sebagai bagian dari urusan kedaulatan, bukan sekadar penegakan aturan administratif.

OMSP Diuji di Lapangan

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa latihan tersebut bukan ajang pamer kemampuan alat utama sistem senjata. Saat meninjau latihan di Desa Mabat, Bangka, ia menyampaikan bahwa negara hadir untuk menertibkan pemanfaatan sumber daya alam dan memastikan kekayaan bangsa tidak dikuasai secara liar.

“Ini bukan hanya unjuk kebolehan alat utama sistem senjata, melainkan komitmen menegakkan aturan serta menciptakan ketertiban untuk menjaga kekayaan alam bangsa,” ujar Sjafrie.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bersama sejumlah pejabat kementerian dan lembaga, termasuk Menteri ESDM, Jaksa Agung, dan Kepala BPKP, menyebut latihan ini juga menjadi pengujian Operasi Militer Selain Perang atau OMSP. Dalam skema itu, perlindungan sumber daya alam diposisikan setara pentingnya dengan penjagaan wilayah perbatasan.

Serangan Udara hingga Pengejaran di Laut

Rangkaian latihan dibuat menyerupai operasi nyata. Tiga jet F-16 milik TNI AU dari Wing Udara 31 dikerahkan untuk demonstrasi serangan udara langsung. Di darat, ratusan prajurit dari Batalyon 501 Kostrad disiapkan dalam skenario penyergapan. Sementara itu, TNI AL menurunkan dua KRI untuk mengejar kapal ponton penambang liar di perairan Bangka.

Pasukan Koopssus juga dilibatkan dalam perebutan sasaran di area galian pasir yang selama ini disebut menjadi ladang subur penambangan ilegal. Usai rangkaian itu, Menhan, Panglima TNI, dan unsur pemerintah lainnya meninjau hasil operasi di Dermaga Belinyu serta lokasi tambang pasir di Dusun Nadi.

Presiden Prabowo sebelumnya menegaskan bahwa negara harus mengetahui dengan pasti arus keluar-masuk hasil tambang di Bangka dan Belitung. “Negara harus tahu dengan pasti apa saja yang keluar dan masuk ke Bangka dan Belitung. Semua jalur peredaran hasil tambang liar harus kita tutup,” tegas Prabowo.

Dari latihan ini, pesan yang muncul bukan hanya soal kesiapan tempur, tetapi juga perubahan cara negara memandang tambang ilegal: bukan lagi sekadar pelanggaran ekonomi, melainkan ancaman langsung terhadap kedaulatan dan masa depan kekayaan alam Indonesia.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.