Menjelang pergantian tahun dari 2025 ke 2026, suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi diwarnai kegiatan yang tenang, khidmat, dan sarat makna. Alih-alih merayakan dengan gegap gempita, lapas ini memilih menutup tahun lewat doa lintas agama yang melibatkan warga binaan dari berbagai keyakinan. Momen tersebut menjadi jeda sejenak dari rutinitas pembinaan, sekaligus ruang bagi para warga binaan untuk menengok perjalanan hidup mereka selama setahun terakhir.
Doa Dipanjatkan di Tempat Ibadah Masing-Masing
Kegiatan doa lintas agama itu digelar di tempat ibadah masing-masing, dengan peserta dari warga binaan beragama Islam, Kristen, dan Hindu. Meski tidak berada dalam satu ruangan, seluruh rangkaian berlangsung pada waktu yang sama sehingga tetap menghadirkan rasa kebersamaan. Petugas Lapas ikut mengawasi jalannya kegiatan agar tetap tertib, aman, dan lancar.
Pendampingan tersebut membuat warga binaan bisa beribadah dengan lebih tenang. Di saat yang sama, pihak lapas memastikan kegiatan berjalan teratur tanpa mengurangi kekhusyukan doa yang dipanjatkan masing-masing pemeluk agama.
Ruang Introspeksi Menjelang Tahun Baru
Kalapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menilai kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin akhir tahun. Menurut dia, doa lintas agama menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk merenungkan kembali langkah yang telah mereka tempuh, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan dan perubahan yang ingin mereka capai.
Ia menekankan, pergantian tahun seharusnya tidak hanya dipandang sebagai perayaan waktu, tetapi juga sebagai titik untuk mengevaluasi diri. Melalui kegiatan ini, warga binaan diharapkan memasuki 2026 dengan sikap yang lebih baik, hati yang lebih tenang, dan kesadaran baru dalam mengikuti pembinaan.
Pesan Kebersamaan di Tengah Perbedaan
Di balik doa yang dipanjatkan sesuai keyakinan masing-masing, kegiatan ini memuat pesan yang lebih luas: pentingnya menjaga ketertiban, harapan, dan rasa saling menghormati di lingkungan lapas. Para peserta memohon perlindungan agar warga binaan maupun petugas tetap dalam keadaan aman dan kondusif.
Perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi tujuan yang sama, yakni menghadirkan ketenangan dan memperkuat semangat kemanusiaan di dalam lapas. Dalam suasana seperti itu, pergantian tahun di Banyuwangi diperingati bukan dengan keramaian, melainkan dengan doa dan harapan untuk perbaikan diri.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.





