Norwegia adalah salah satu negara yang telah berada jauh di depan dalam transisi menuju kendaraan listrik. Dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, Norwegia hampir selesai dalam memindahkan preferensi mobilnya ke listrik. Mobil listrik menyumbang hampir 30% dari semua pembelian mobil baru di Norwegia satu dekade yang lalu, dan negara ini bahkan hampir mencapai target untuk tidak memiliki mobil bensin baru di jalanannya pada tahun 2025.
Meskipun Norwegia tidak secara resmi menjadi bagian dari Uni Eropa, hubungan negara ini dengan blok tersebut sangat erat dan sering kali berfungsi sebagai anggota de facto. Berbeda dengan banyak negara di Uni Eropa yang tidak setuju dengan rencana untuk menghentikan penjualan mobil berbahan bakar minyak pada tahun 2035, Norwegia tetap berkomitmen untuk mencapai tujuan ini. Dengan kendaraan listrik murni mencapai 95,9% dari total penjualan mobil di negara tersebut pada tahun 2025, Norwegia berhasil melampaui negara-negara Eropa lainnya dalam mempercepat adopsi mobil listrik.
Selain insentif pajak yang telah diperkenalkan untuk kendaraan listrik di Norwegia, pajak yang semakin tinggi untuk mobil berbahan bakar juga telah mempercepat beralihnya preferensi masyarakat Norwegia ke mobil listrik. Kombinasi antara biaya pendaftaran yang tinggi serta pajak bahan bakar yang cukup membuat mobil berbahan bakar menjadi pilihan yang kurang ekonomis dibandingkan mobil listrik.
Norwegia, bersama dengan negara-negara Nordik lainnya, memimpin Eropa dalam hal adopsi mobil listrik. Seiring dengan tren penjualan mobil listrik yang terus meningkat, hal itu menimbulkan pertanyaan apakah pengecualian pajak yang saat ini berlaku akan mempengaruhi tren pembelian mobil listrik di masa mendatang. Peningkatan jumlah mobil listrik kecil dan terjangkau dari pabrikan Eropa serta model-model China yang juga memenuhi syarat untuk pengecualian pajak di Norwegia bisa menjadi faktor penentu dalam pergeseran ukuran kendaraan yang dibeli di negara tersebut.





