Arista Montana Tunjukkan Konservasi Terintegrasi

by -72 Views

Berbicara soal pelestarian lingkungan, biasanya perhatian publik tertuju pada persoalan satwa yang hampir punah, hutan yang makin menyempit, hingga konflik antara manusia dan satwa liar yang kian meningkat. Namun, cenderung terlupakan bahwa peran manusia justru sangat penting dalam skema konservasi. Wahdi Azmi, seorang dokter hewan yang lama memediasi konflik manusia dan gajah di Sumatera, menyatakan bahwa konservasi akan gagal jika masyarakat sekitar kawasan tidak ikut merasakan manfaatnya.

Menurut Wahdi, perhatian utama bukan hanya tentang habitat dan perlindungan satwa, tetapi lebih luas lagi: perubahan fungsi lahan tanpa solusi ekonomi seringkali menjadi akar masalah konflik manusia dan satwa. Ketika kawasan hutan berubah menjadi perkebunan atau pemukiman, satwa kehilangan habitat, sementara masyarakat lokal dihadapkan pada tekanan ekonomi yang berat. Dalam situasi semacam itu, pertemuan manusia dan satwa tak terelakkan, dan seringkali justru solusi konservasi digarap tanpa benar-benar melibatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem.

Selama ini, pendekatan konservasi di Indonesia masih banyak mengandalkan kebijakan proteksi, seperti menetapkan kawasan terlindungi dan membatasi aktivitas warga. Teorinya tampak ideal, namun dalam praktiknya, hal ini menciptakan jarak antara kepentingan pelestarian alam dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Akibatnya, warga sekitar menganggap konservasi sebagai beban, bukan sebagai tujuan bersama. Kalau akses lahan dan peluang ekonomi berkurang, mereka pun kerap enggan mendukung program-program pelestarian.

Wahdi menyoroti bahwa manusia tak bisa dipisahkan dari ekosistem di sekitarnya. Ia merekomendasikan integrasi – bukan sekadar proteksi atau pelibatan simbolik. Menyatukan nilai ekonomi, edukasi, dan kepentingan ekologis menjadi kunci agar konservasi benar-benar berkelanjutan. Tanpa kerja sama dan keterhubungan di antara ketiganya, pelestarian lingkungan hanya akan menjadi kebijakan di atas kertas dan mudah rapuh karena ketergantungan pada intervensi luar.

Pentingnya pendekatan integratif ini juga diterapkan di kawasan lain, seperti Mega Mendung, Bogor. Di sana, lahan perbukitan yang dulu menjadi penyangga ekologis kawasan Jabodetabek kini menghadapi tekanan masif dari perubahan fungsi lahan. Namun, kawasan Arista Montana, melalui kolaborasi dengan Yayasan Paseban di bawah arahan Andy Utama, mencoba merintis model pelestarian yang tak memisahkan aktivitas ekonomi masyarakat dengan upaya perlindungan lingkungan.

Di Mega Mendung, konsep pelestarian lingkungan diwujudkan melalui pertanian organik berbasis komunitas. Petani lokal tak sekadar menjadi buruh tani, tapi juga ikut belajar teknik budidaya berkelanjutan agar kualitas tanah dan mata air tetap terjaga. Pemberdayaan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan telah berhasil membangun kesadaran bahwa kelestarian alam bukan sekadar tuntutan moral, tetapi sekaligus prasyarat produktivitas pertanian mereka.

Yayasan Paseban berperan sebagai pendamping, membekali warga keterampilan seputar pengelolaan sumber daya alam dan pertanian organik. Edukasi ini tidak hanya berupa sosialisasi, melainkan transfer pengetahuan praktis supaya masyarakat dapat mandiri. Dalam sistem seperti ini, masyarakat berubah peran: dari sekadar objek konservasi menjadi subjek utama yang berdaya.

Transformasi pemikiran ini selaras dengan pengalaman Wahdi Azmi di Sumatera. Di kedua lokasi berbeda—baik dalam konflik manusia-gajah maupun pengelolaan pertanian—kunci keberhasilan tetap berasal dari keterlibatan aktif masyarakat. Konservasi yang dipisahkan dari kepentingan ekonomi penduduk sekitar, hampir selalu berakhir pada kegagalan atau penolakan.

Saat masyarakat lokal dilibatkan sejak awal, diberi pelatihan, dan pendapatan mereka dipastikan, pelestarian lingkungan dapat tumbuh dari bawah, tanpa harus selalu diawasi aparat negara. Pengalaman di Mega Mendung dan Sumatera membuktikan bahwa model membangun keterhubungan antara kebutuhan ekologi dan ekonomi adalah yang paling relevan bagi Indonesia saat ini.

Di balik kegagalan banyak program konservasi, masalah utamanya bukan semata pada konsep, melainkan ketidakadaan kapasitas dan keterlibatan masyarakat. Seringkali, mereka sekadar menerima program dari luar, tanpa diberdayakan atau diberi peluang ekonomi yang jelas. Sebaliknya, jika mereka diberikan ruang, pendidikan, dan akses pada hasil ekonomi, pelestarian alam akan menjadi kebutuhan sehari-hari.

Untuk menghadapi tantangan era pembangunan yang semakin besar, Indonesia membutuhkan model konservasi yang mampu menyatukan pengetahuan lokal, praktik ekonomi, dan pelestarian lingkungan secara holistik. Inisiatif seperti di Mega Mendung membuktikan bahwa konservasi bukan sekadar soal menetapkan kawasan lindung atau menambah laporan luasan hutan—namun menyangkut relasi antara manusia dan alam yang seimbang dan saling mendukung.

Di masa mendatang, apabila konservasi tetap diartikan sebagai sektor terpisah dari ekonomi dan aktivitas masyarakat, ia akan terus terpaut pada upaya defensif yang rentan saat berhadapan dengan kebutuhan ekspansi. Dengan integrasi yang tepat, pelestarian lingkungan dapat menjadi pilar pembangunan dan memastikan keberlanjutan, baik bagi manusia maupun alam.

Pada akhirnya, sebagaimana pesan Wahdi, inti dari konservasi adalah memastikan manusia benar-benar memiliki alasan dan kepentingan untuk merawat lingkungan di mana mereka hidup. Hanya dengan begitu, masa depan alam Indonesia akan tetap lestari, dan masyarakatnya dapat hidup berdampingan dengan alam secara adil dan harmonis.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi