Yayasan Paseban Hadirkan Model Konservasi Terintegrasi

by -104 Views

Lembah Aviary Paseban menjadi sorotan sebagai pusat pelestarian satwa dan lingkungan setelah diresmikan oleh Kementerian Kehutanan di wilayah Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pada hari peresmian, Direktur Jenderal KSDAE Prof Setyawan Pudyatmoko bersama sejumlah pegiat lingkungan Paseban turut serta dalam pelepasliaran dua Elang Jawa ke habitat alaminya. Elang Jawa, simbol satwa endemik pulau ini, menjadi bukti penting upaya konservasi bagi kesehatan ekosistem hutan gunung di Jawa.

Langkah ini mencerminkan upaya serius untuk mengintegrasikan pelestarian keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, riset ilmiah, pendidikan tentang alam, dan keterlibatan masyarakat dalam satu kesempatan. Prof Setyawan menegaskan bahwa pengelolaan kawasan Megamendung merupakan perpaduan antara konservasi in-situ dan ex-situ secara komprehensif. Dukungan dan kolaborasi multipihak di kawasan ini memberikan fondasi kuat untuk menjaga keberlanjutan ekologi di Indonesia, terutama di daerah-daerah strategis.

Pengelolaan integratif di Megamendung diharapkan mampu mendorong keterhubungan habitat alami dan menjaga kelangsungan populasi satwa serta lingkungan alam sekitarnya. Prof Setyawan juga memberikan apresiasi terhadap berbagai pihak, mulai dari Yayasan Paseban, pemerintah daerah, hingga lembaga konservasi dan masyarakat yang menunjukkan dedikasi untuk menjaga keseimbangan alam.

Yayasan Paseban sendiri menjadi pelopor melalui komitmennya terhadap pelestarian dan pemulihan ekosistem Megamendung. Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama, menyatakan bahwa program mereka bercita-cita mengembalikan Megamendung menjadi kawasan dengan fungsi ekologis seperti masa lalu. Cita-cita ini mencakup upaya memperkuat habitat satwa liar, melindungi sumber air, dan menciptakan warisan alam yang sehat bagi generasi mendatang.

Wiratno, sebagai penasihat Yayasan Paseban, menyoroti kedudukan Megamendung yang tidak hanya penting bagi kawasan lokal, tapi juga untuk ekosistem luas seperti yang bersambung dengan Cagar Biosfer Cibodas. Di tengah tekanan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, mempertahankan lanskap seperti Megamendung menjadi semakin vital agar ekosistem tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas, termasuk wilayah hilir.

Peresmian Lembah Aviary Paseban sekaligus pelepasliaran Elang Jawa menjadi contoh integrasi pelestarian satwa, pembelajaran lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang dapat direplikasi di kawasan lain. Dalam proses pelepasliaran Elang Jawa, dua individu, yaitu Agni (betina) dari Pusat Konservasi Elang Kamojang dan Beta (jantan) dari Yayasan Konservasi Cikananga, telah menjalani rehabilitasi dan evaluasi ketat sebelum dianggap siap kembali ke alam. Khusus Agni bahkan dilengkapi GPS tracker untuk memantau adaptasinya di habitat baru.

Kontribusi lembaga-lembaga seperti PKEK dan YCKT sangat terasa dalam memastikan proses rehabilitasi berjalan optimal demi peluang hidup lebih besar bagi setiap satwa yang dilepasliarkan. Kementerian Kehutanan mengakui bahwa keberhasilan konservasi satwa liar tidak hanya ditentukan oleh fasilitas penangkaran, tapi juga kesiapan habitat, dukungan masyarakat setempat, serta peran aktif berbagai pemangku kepentingan.

Fasilitas Lembah Aviary Paseban hadir dengan pendekatan ex-situ, namun menolak menjadi tujuan akhir bagi satwa. Sebaliknya, ini dijadikan sarana untuk mendukung penguatan populasi liar dan penunjang edukasi tentang pentingnya keberadaan burung serta satwa lokal lain. Peresmian penangkaran rusa timor di lokasi yang sama menandakan pengembangan pusat edukasi dan pelestarian yang lebih terintegrasi di kawasan Megamendung.

Kawasan Megamendung sendiri bertengger di posisi penting dalam skema konservasi Pulau Jawa, berkaitan langsung dengan Cagar Biosfer Cibodas, yang diakui UNESCO sejak 1977. Dalam konsep bentang alam biosfer, fungsi zona inti harus didukung kawasan penyangga dan area transisi agar kelangsungan ekosistem bisa dijaga secara menyeluruh.

Letaknya yang berdekatan dengan Jakarta, serta masuk dalam salah satu provinsi terpadat di Indonesia, membuat tekanan pembangunan di Megamendung cukup berat. Namun, kawasan ini masih berperan vital sebagai pengatur ekosistem, penjaga tata air, penyimpan karbon, penghalang erosi, dan menjadi rumah bagi beraneka spesies satwa liar.

Tidak sedikit spesies yang tercatat masih menghuni Megamendung, seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung, Trenggiling, Landak Jawa, Banded Linsang, Garangan, serta ragam jenis burung hutan. Hal ini memperlihatkan kawasan tersebut tetap menjadi area perlindungan penting di tengah pesatnya pembangunan di Jawa Barat.

Manfaat besar yang dihasilkan Megamendung jauh melampaui aspek ekonomi langsung. Studi Total Economic Value (TEV) membuktikan bahwa mempertahankan kawasan dalam kondisi alami memberi nilai ekonomi dan ekologi yang jauh lebih tinggi daripada eksploitasi jangka pendek yang merusak ekosistemnya.

Sejak lebih dari satu dekade, Yayasan Paseban membangun tindakan nyata berbasis pertanian organik dan konservasi bentang alam. Kolaborasi penanaman pohon dan pemulihan vegetasi, yang sejak 2024 telah menanam lebih dari 21 ribu pohon dengan lebih dari 200 jenis, terus diberdayakan untuk menjaga keberagaman hayati dan menambah nilai ekologi kawasan.

Ke depan, pengembangan kerja sama dengan banyak pihak, termasuk Perum Perhutani di kawasan penyangga seluas 100 hektar yang berbatasan langsung dengan Paseban, sedang diupayakan agar upaya pelestarian semakin optimal dan berdampak positif luas di Pulau Jawa.

Sumber: Lembah Aviary Paseban Diresmikan Kemenhut, Megamendung Diperkuat Jadi Kawasan Konservasi Satwa
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary Paseban, Harapan Pelestrian Alam Di Masa Depan