Andy Utama Soroti Hubungan Manusia dan Alam dalam Pemulihan Ekologis

by -134 Views

Kawasan Megamendung di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih menyediakan habitat alami bagi lima spesies primata terakhir di Pulau Jawa. Hal ini terungkap dari hasil pemantauan lapangan yang dilaksanakan Paseban Foundation, termasuk pengamatan langsung serta pemasangan kamera jebak untuk mendeteksi kehadiran satwa liar di kawasan tersebut.

Presentasi atas temuan tersebut menjadi bagian dalam acara tahunan Paseban Foundation Annual Dinner 2026 yang berlangsung di Jakarta, bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional serta dua tahun perjalanan yayasan sebagai pelopor konservasi lokal.

Wahdi Azmi, selaku Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menyoroti realita bahwa Pulau Jawa, dengan padatnya populasi, tengah menghadapi tekanan berat dari aktivitas manusia. Megamendung sendiri menjadi contoh langka sebuah lanskap kecil di mana lima jenis primata asli Jawa masih bisa ditemukan bersama dalam satu ekosistem yang terjaga.

Fakta keberadaan lima primata dalam satu wilayah mempertegas status Megamendung sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati, sekaligus menegaskan urgensi perlindungan kawasan dari ancaman konversi lahan.

Selain primata, peneliti juga memverifikasi kehadiran satwa berstatus mahkota seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa di dataran pegunungan tropis tersebut. Keragaman fauna dan tumbuhan yang masih tinggi menandakan pentingnya Melestarikan kawasan ini.

Letak Megamendung tak jauh dari Jakarta sekaligus berada di koridor penting Cagar Biosfer Cibodas membuat wilayah ini kerap mendapat tekanan pembangunan dan pembukaan lahan baru. Konsep cagar biosfer menuntut harmonisasi antara pelestarian sumber daya hayati dan pemanfaatan yang bijaksana melalui tata kelola bertingkat mulai dari zona inti, penyangga, hingga wilayah interaksi sosial ekonomi.

Mekanisme kehidupan di kawasan Megamendung menunjukkan saling keterkaitan antara hutan, sistem air, jalur migrasi satwa, dan lahan warga. Semuanya saling memberi dampak dalam menjaga keseimbangan ekologi di tengah desakan pembangunan.

Menurut Wiratno, penasihat Paseban Foundation, alam tidak mengenal batas administratif. Satwa akan berpindah mencari pakan dan air, sementara kebijakan manusia sering tidak mempertimbangkan dinamika lintas batas ini.

Oleh sebab itu, upaya konservasi harus melibatkan sinergi banyak pihak: pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan organisasi lingkungan. Kolaborasi lintas sektor mutlak untuk menjamin keberlanjutan manajemen habitat.

Sebagai bagian komitmen perlindungan jangka panjang, Paseban Foundation memulai program penghijauan dengan penanaman ribuan bibit pohon lokal. Sampai Agustus 2026, sudah lebih dari dua puluh ribu bibit ditanam guna memperbaiki tutupan vegetasi dan menjaga fungsi ekosistem secara menyeluruh.

Di samping melakukan tindakan konservasi di lapangan (in-situ), yayasan ini mulai menjalankan skema perlindungan ex-situ, yakni penangkaran satwa liar, khususnya untuk jenis burung dan mamalia yang terancam punah. Kegiatan ini dilakukan secara non-komersial dengan memperoleh izin resmi yang diperlukan.

Inisiatif penangkaran satwa telah membuahkan kelahiran tiga anak rusa, yang rencananya akan dikembalikan ke alam liar setelah melewati masa rehabilitasi dan persiapan menyeluruh. Tujuannya agar rantai ekologi yang alami di Megamendung dapat terbentuk kembali.

Namun, proses pelepasliaran tidak sederhana. Setiap satwa yang akan dikembalikan harus melalui serangkaian seleksi kecakapan bertahan hidup, analisis kecocokan habitat, serta pemantauan berkelanjutan untuk menghindari efek samping buruk baik bagi populasi maupun ekosistem.

Andy Utama, Pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, menilai kerja konservasi di Megamendung adalah proses berjangka panjang yang harus direncanakan lintas generasi. Oleh sebab itu, lahirlah Megamendung Century Initiative yang menetapkan target restorasi ekosistem 100-200 tahun ke depan, merujuk pada daya dukung asli lingkungan.

Misi jangka panjang ini bukan sekadar mengulang masa lalu, melainkan memperbaiki setiap elemen pendukung kehidupan alami: dari kestabilan air, kepadatan vegetasi, rantai interaksi antarsatwa, hingga sinkronisasi aktivitas manusia dengan alam di sekitarnya.

Andy menegaskan bahwa tugas konservasi harus diwariskan dan dilanjutkan oleh generasi penerus karena hasil sesungguhnya baru akan dirasakan jauh di masa depan.

“Setiap langkah kecil yang kita lakukan saat ini adalah investasi bagi masa depan alam kita. Warisan kerja konservasi adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu generasi,” ungkapnya.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor