Paseban Foundation Luncurkan The Silent Resilience sebagai Dokumentasi Konservasi

by -128 Views

Upaya kolaboratif lintas sektor untuk pelestarian alam semakin penting di tengah kompleksitas tantangan lingkungan dewasa ini. Paseban Foundation berperan strategis sebagai jembatan antara praktik konservasi di lapangan dan penyebaran pengetahuan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Pada Annual Dinner tahun 2026 yang diselenggarakan bersamaan dengan Hari Konservasi Alam Nasional dan perayaan dua tahun berdirinya, Paseban Foundation menegaskan komitmennya memperkokoh sinergi antara pemerintah, organisasi internasional, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, filantropi, akademisi, pelaku budaya, serta kaum muda dalam mengawal Cagar Biosfer Cibodas, khususnya kawasan Megamendung.

Penguatan kolaborasi ini menyadarkan semua pihak bahwa memelihara Megamendung sebagai bagian vital biosfer butuh keterlibatan multipihak tanpa sekat institusi dan sektor. Hal ini ditegaskan melalui tema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve” yang mewarnai pertemuan berbagai aktor mulai dari kementerian hingga generasi muda.

Andy Utama, pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, mengungkapkan bahwa regenerasi pegiat konservasi menjadi pondasi konsistensi gerakan mereka. Menurut Andy, konservasi adalah kerja panjang yang tak dapat bertumpu pada individu maupun satu generasi saja. Ia menekankan pentingnya estafet kepemimpinan agar konservasi dapat berlangsung lintas zaman.

Atas landasan tersebut, Paseban Foundation menghubungkan pemangku kepentingan yang beragam agar setiap pihak menawarkan kapasitas, wewenang, dan sumber daya untuk tujuan bersama – justru dengan memosisikan diri sebagai penghubung alih-alih pusat aktivitas.

Pengalaman Paseban Foundation dalam konservasi in-situ tercermin melalui aksi nyata seperti perlindungan habitat serta penanaman puluhan ribu pohon lokal untuk memulihkan ekosistem. Tak hanya itu, konservasi ex-situ juga dikembangkan lewat penangkaran satwa burung dan mamalia tanpa orientasi komersial, yang hingga kini telah berhasil mengembangbiakkan tiga anak rusa.

Tak kalah penting, lembaga ini rutin menjalankan survei biodiversitas, observasi langsung, dan memanfaatkan kamera jebak untuk merekam keberadaan satwa liar dan flora langka. Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menjelaskan bahwa mereka telah memverifikasi keberadaan lima spesies primata Jawa di area Megamendung yang relatif kecil, sesuatu yang sangat langka mengingat tingginya tekanan populasi di Pulau Jawa. Keberadaan hewan kunci seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa semakin memperkuat urgensi perlindungan kawasan ini.

Tak berhenti pada intervensi ekosistem, Paseban Foundation juga mentransformasikan hasil-hasil di lapangan menjadi aset pengetahuan. Data, temuan survei, dan pembelajaran digali, diolah, lalu disebarluaskan untuk menunjang penelitian, pendidikan, advokasi, peningkatan kapasitas, dan kebijakan publik. Pendekatan ini mempertegas posisinya sebagai knowledge institution yang merangkai praktik konservasi dengan ekosistem pengetahuan aktual.

Komitmen peningkatan pengetahuan ditandai melalui peluncuran dua publikasi penting – “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” serta “Kepemimpinan Bentang Alam”, ditambah pemutaran film dokumenter “The Silent Resilience”. Ragam bentuk produksi pengetahuan, seperti buku, penelitian, survei biodiversitas, film hingga knowledge management, dirangkai dalam satu ekosistem yang saling melengkapi.

Hasil-hasil tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat internal organisasi, tapi juga mendorong kolaborasi lintas aktor dan meningkatkan kesadaran publik terhadap pelestarian megapolitan tropis.

Peran generasi muda mendapat sorotan khusus dalam seluruh proses. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai distribusi data-data konservasi sangat krusial agar dapat menjadi diskursus publik yang membangun kepedulian. Ia menyebut Paseban Foundation punya potensi kuat sebagai pusat pertemuan inisiatif, menyatukan beragam kekuatan untuk menjaga Kelestarian Cagar Biosfer Cibodas.

Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan pun menegaskan, senior yang sebentar lagi purna tugas harus digantikan generasi muda agar tanggung jawab lingkungan terus berlanjut tanpa terputus di tengah jalan. “Tugas regenerasi ini adalah kunci keberlanjutan konservasi,” ujarnya.

Wiratno, Penasihat Paseban Foundation, menekankan bahwa kepemimpinan bentang alam mensyaratkan kemampuan memadukan berbagai kepentingan lintas batas administratif karena air, manusia, satwa liar, dan hutan adalah satu sistem yang saling terhubung. Ia menambahkan, inti kepemimpinan di sini bukanlah mengenai institusi, tetapi tentang menyatukan ragam aktor dalam menjaga ekosistem bersama.

Melalui aksi nyata di lapangan, pengelolaan pengetahuan, dan regenerasi kapasitas, Paseban Foundation berupaya menciptakan landasan kelembagaan yang tangguh guna memastikan konservasi Bentang Alam Megamendung berlanjut dari generasi ke generasi.

Harapannya, langkah-langkah kolaboratif ini mampu membuat upaya konservasi megamendung tidak terpaku pada satu program, individu, atau masa tertentu, melainkan terus berlanjut lewat kolaborasi, ilmu, dan estafet kepemimpinan sepanjang masa.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut