Mata Minus dan Silinder: Perbedaan, Gejala, dan Penyebab

by -90 Views

Pandangan buram tidak selalu menandakan jenis gangguan mata yang sama. Mata minus atau miopia dan mata silinder atau astigmatisme memang memiliki sejumlah gejala serupa, tetapi keduanya merupakan kelainan refraksi dengan penyebab serta karakter gangguan penglihatan yang berbeda.

Perbedaan itu berkaitan dengan cara bentuk mata membelokkan cahaya. Agar gambar terlihat jelas, cahaya perlu difokuskan tepat pada retina. Pada mata minus maupun silinder, cahaya tidak mencapai titik fokus yang semestinya sehingga objek terlihat kabur atau bahkan terdistorsi.

Perbedaan gangguan penglihatan

Mata minus terutama mengganggu kemampuan melihat benda dari jarak jauh. Orang dengan kondisi ini umumnya masih dapat melihat objek dekat dengan lebih jelas, tetapi kesulitan membaca tulisan atau mengenali benda yang letaknya jauh.

Miopia terjadi ketika bentuk bola mata atau kornea membuat cahaya jatuh di depan retina, bukan tepat pada retina. Keluhan yang dapat menyertainya meliputi kebiasaan menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan, mata mudah lelah, sakit kepala, serta kesulitan membaca tulisan dari kejauhan.

Pada anak-anak dan remaja, tanda mata minus antara lain dapat terlihat dari kebiasaan duduk terlalu dekat dengan layar atau kesulitan melihat tulisan di papan kelas.

Adapun mata silinder terjadi ketika permukaan kornea atau lensa memiliki bentuk maupun kelengkungan yang tidak sama ke segala arah. Akibatnya, cahaya tidak terkumpul secara sempurna pada satu titik di retina.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan pandangan buram atau terdistorsi saat melihat objek dekat maupun jauh. Gejalanya dapat berupa mata tegang atau terasa tidak nyaman, sakit kepala, sering menyipitkan mata, serta kesulitan melihat dalam situasi tertentu, termasuk pada malam hari.

Meski demikian, gejala astigmatisme tidak selalu sama pada setiap orang karena tingkat gangguannya dapat berbeda. Seseorang yang memiliki mata silinder juga tidak serta-merta selalu kesulitan melihat benda jauh dengan jelas.

Minus dan silinder dapat terjadi bersamaan

Pembeda utama kedua kondisi itu terletak pada pola gangguan penglihatan. Miopia lebih dominan membuat objek jauh tampak kabur, sedangkan astigmatisme dapat mengaburkan atau mendistorsi pandangan pada berbagai jarak.

Keduanya juga dapat dialami secara bersamaan. Dalam kondisi tersebut, seseorang memerlukan lensa yang mampu mengoreksi rabun jauh sekaligus astigmatisme. Kesamaan keluhan tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan sendiri jenis gangguan atau ukuran lensa yang dibutuhkan.

Gejala seperti pandangan buram dan sakit kepala memang dapat menjadi petunjuk awal. Namun, pemeriksaan mata tetap diperlukan untuk memastikan apakah seseorang mengalami mata minus, silinder, atau kombinasi keduanya.

Pemeriksaan menentukan koreksi yang sesuai

Melalui pemeriksaan refraksi, tenaga kesehatan mata dapat mengetahui cara mata membelokkan cahaya sekaligus menentukan koreksi yang diperlukan. Pemeriksaan dianjurkan ketika penglihatan mulai kabur, sakit kepala kerap muncul setelah melihat dalam waktu lama, atau seseorang kesulitan membaca tulisan dari jarak tertentu.

Mata minus dan silinder sama-sama dapat dikoreksi dengan kacamata. Jenis serta ukuran lensanya harus disesuaikan dengan tingkat kelainan refraksi masing-masing orang. Pada beberapa kondisi, lensa kontak juga dapat digunakan sebagai pilihan koreksi.

Dokter mata dapat mempertimbangkan operasi refraktif untuk kasus tertentu apabila pasien memenuhi persyaratan medis. Pilihan penanganan tersebut bergantung pada hasil evaluasi, bukan semata-mata pada keluhan yang dirasakan.

Karena ukuran lensa setiap orang dapat berbeda, kacamata milik orang lain sebaiknya tidak digunakan hanya karena gejala yang dialami terasa sama. Pemeriksaan mata merupakan langkah yang diperlukan untuk mengetahui kondisi penglihatan secara tepat dan menentukan koreksi yang sesuai.

Source link