Hujan mulai kembali turun di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir September 2026. Namun, kondisi tersebut belum berarti seluruh daerah telah memasuki musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, sementara curah hujan di banyak daerah diprakirakan tetap berada pada kategori rendah hingga menengah sampai awal Oktober.
BMKG mencatat hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih terjadi secara lokal. Pada pertengahan September, hujan lebat antara lain tercatat di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Papua. Dinamika atmosfer membuat hujan dapat turun di suatu wilayah meski daerah lain masih mengalami kondisi kering.
Perubahan cuaca tersebut tetap perlu diantisipasi karena hujan, genangan, dan banjir dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit. Berikut beberapa gangguan kesehatan yang perlu diperhatikan masyarakat.
Penyakit yang berkaitan dengan genangan dan banjir
Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi salah satu penyakit yang kerap dikaitkan dengan meningkatnya curah hujan. Penyakit akibat virus dengue ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Air yang tertampung di pot, ember, talang, ban bekas, atau wadah lain dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk jika tidak segera dikuras atau ditutup.
Kementerian Kesehatan mengingatkan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan, serta menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air.
Banjir juga dapat meningkatkan risiko diare ketika air bersih tercemar kotoran dan mikroorganisme. Sanitasi yang buruk mempercepat penyebaran penyakit, terutama saat akses terhadap air bersih terbatas. Mencuci tangan menggunakan sabun, memastikan air minum aman, dan menjaga kebersihan makanan menjadi langkah penting.
Risiko lain adalah leptospirosis, penyakit akibat bakteri Leptospira yang di Indonesia banyak berkaitan dengan tikus. Bakteri tersebut dapat menyebar melalui urine hewan yang mencemari air atau tanah. Paparan lebih berisiko ketika air banjir mengenai kulit yang memiliki luka terbuka. Masyarakat disarankan menghindari kontak langsung dengan air banjir dan menggunakan pelindung, seperti sepatu bot, bila harus berada di area terdampak.
Gangguan pernapasan, kulit, dan pencernaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga perlu diwaspadai saat hujan dan banjir memaksa banyak orang berkumpul di pengungsian atau ruang tertutup. Penyakit ini dapat disebabkan virus, bakteri, dan mikroorganisme lain. Gejalanya antara lain batuk, pilek, dan demam, sedangkan kondisi yang lebih berat dapat disertai sesak napas atau nyeri dada. Menjaga kebersihan tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta menghindari kontak dekat dengan orang sakit dapat membantu mengurangi risiko penularan.
Air banjir yang bercampur kotoran juga bisa memicu iritasi, gatal-gatal, dan infeksi kulit. Keluhan lebih mudah muncul ketika seseorang terlalu lama berada dalam kondisi basah atau terpapar lingkungan lembap. Luka, kemerahan, gatal berat, atau tanda infeksi setelah kontak dengan air banjir sebaiknya tidak diabaikan apabila tidak membaik.
Selain diare, gangguan saluran cerna seperti demam tifoid atau tifus dapat terjadi ketika makanan dan minuman terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi. Makanan perlu disimpan dengan baik dan dikonsumsi dalam keadaan bersih serta matang. Air minum juga harus dipastikan aman.
Musim hujan atau banjir turut berpotensi memperburuk penyakit kronis yang telah diderita seseorang, terutama ketika kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan dan mengganggu aktivitas maupun akses ke layanan kesehatan. Karena itu, rutinitas pengobatan perlu tetap dijaga dan gejala yang memburuk tidak boleh diabaikan.
Persiapan dapat dimulai meski hujan belum merata. Membersihkan saluran air, menghilangkan genangan, menguras penampungan air, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta merawat kebersihan tubuh merupakan langkah yang dapat dilakukan sejak sekarang.





