Rasa kantuk yang muncul setelah membaca beberapa paragraf buku pelajaran tidak selalu berarti seseorang malas belajar. Dalam perspektif neurosains dan psikologi, kondisi tersebut dapat menjadi respons biologis ketika otak menghadapi beban kerja yang tinggi, terutama saat harus mempertahankan fokus dan memproses informasi baru.
Mengapa belajar bisa memicu rasa kantuk?
Salah satu bagian otak yang banyak bekerja selama proses belajar adalah korteks prefrontal. Area ini berperan dalam menjaga perhatian, mengolah informasi, menganalisis materi, hingga mengambil keputusan. Ketika aktivitas tersebut berlangsung terus-menerus, otak dapat mengalami kelelahan mental yang kemudian diterjemahkan tubuh sebagai dorongan untuk beristirahat.
Otak memang hanya menyumbang sekitar 2 persen dari total berat badan, tetapi organ tersebut menggunakan sekitar 20 persen energi harian tubuh. Aktivitas mental yang intens meningkatkan beban metabolisme otak. Karena itu, sinyal lelah dapat muncul meski tubuh tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat.
Faktor lain berkaitan dengan adenosin, molekul yang menumpuk ketika otak bekerja keras memproses informasi. Penumpukan adenosin berfungsi sebagai penanda kelelahan dan meningkatkan tekanan tidur atau sleep pressure. Semakin lama seseorang berkonsentrasi, semakin kuat pula dorongan untuk mengantuk yang dapat dirasakan.
Jenis aktivitas belajar juga berpengaruh. Membaca teks secara pasif dan monoton dapat menurunkan keterlibatan mental. Dalam kondisi itu, kadar dopamin—neurotransmiter yang berkaitan dengan motivasi dan kewaspadaan—dapat menurun. Otak kemudian menganggap kegiatan tersebut kurang merangsang sehingga kewaspadaan ikut merosot.
Kurang tidur yang berlangsung kronis dapat memperburuk keadaan. Lingkungan belajar yang tidak tepat juga berpotensi memperkuat rasa kantuk. Membaca di atas kasur dengan pencahayaan remang, misalnya, dapat memicu produksi melatonin, hormon yang berkaitan dengan tidur. Posisi dan suasana tersebut juga membuat tubuh mengasosiasikannya dengan waktu beristirahat.
Strategi agar tetap terjaga saat belajar
Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah teknik Pomodoro. Waktu belajar dibagi menjadi interval fokus, misalnya 25 menit belajar dan 5 menit istirahat. Jeda singkat membantu mencegah kelelahan mental akibat stimulasi yang berlangsung terlalu lama.
Belajar secara aktif juga dapat membantu mempertahankan perhatian. Alih-alih hanya membaca, pelajar dapat membuat ringkasan, menyusun peta konsep, atau menjelaskan kembali materi dengan bahasa sendiri. Cara ini membuat proses memahami informasi menjadi lebih melibatkan otak.
Pengaturan tempat belajar tidak kalah penting. Meja dan kursi dengan posisi tegak serta pencahayaan yang terang lebih sesuai untuk belajar dibandingkan tempat tidur. Saat jeda, berdiri, melakukan peregangan, atau berjalan sebentar dapat membantu meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak.
Dengan mengenali penyebabnya, rasa kantuk saat belajar tidak harus langsung dianggap sebagai tanda kemalasan. Perubahan durasi belajar, metode memahami materi, posisi tubuh, dan lingkungan dapat menjadi langkah untuk menjaga sesi belajar tetap produktif.





