Sering Mengeluh? Ini 6 Dampaknya bagi Diri dan Orang Lain

by -64 Views

Mengeluh dapat menjadi cara untuk melepaskan emosi, menyampaikan perasaan, dan membuka pembicaraan mengenai masalah. Namun, ketika dilakukan terus-menerus tanpa upaya memahami persoalan atau mencari langkah penyelesaian, kebiasaan ini justru bisa memperburuk kondisi diri dan memengaruhi orang-orang di sekitar.

Psikolog kesehatan klinis di SelfWorks, Kerry Cannity, mengatakan keluhan memiliki manfaat dalam situasi tertentu. “Mengeluh bisa bermanfaat jika hal itu memungkinkan kita meluapkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, dan memulai proses pemecahan masalah,” ujarnya.

Masalah muncul ketika mengeluh berubah menjadi respons otomatis terhadap kemacetan, pekerjaan, cuaca, maupun konflik dengan orang lain. Dalam kondisi tersebut, keluhan tidak lagi sekadar membantu seseorang merasa lega, tetapi dapat membuatnya terus berada dalam pola pikir yang sama.

Enam dampak mengeluh terlalu sering

Pertama, kebiasaan mengeluh dapat membuat pikiran semakin berfokus pada hal-hal negatif. Cannity mengatakan, “Jika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif.” Perhatian pun lebih mudah tertuju pada hal yang memicu marah, kecewa, takut, atau frustrasi.

Masalah yang semula hanya menjadi satu bagian dari hari dapat terasa lebih besar karena terus dipikirkan dan diceritakan. Keluhan juga dapat membuat stres berulang. Rasa lega mungkin muncul sesaat setelah seseorang bercerita, tetapi frustrasi dapat kembali setiap kali persoalan yang sama dibahas tanpa ada kemajuan menuju penyelesaian.

Psychology Today membedakan curhat yang membantu seseorang memproses emosi dari kebiasaan mengeluh yang membuat seseorang berputar dalam pikiran negatif. Menurut laporan tersebut, keluhan kronis dapat meningkatkan ketegangan mental dan fisik serta menyulitkan seseorang melihat tindakan yang bisa dilakukan.

Dampak berikutnya adalah berkurangnya kemampuan untuk mencari solusi. Mengeluh memang dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Akan tetapi, jika berhenti pada keluhan, perhatian lebih banyak tersita untuk mengulang apa yang salah daripada menentukan hal yang masih dapat diperbaiki, diterima, atau dikelola. Kebiasaan ini bahkan dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya dan kehilangan dorongan untuk bertindak.

Keluhan yang berlebihan juga berisiko mengganggu hubungan sosial. Mary McLaughlin, LCSW, terapis yang berspesialisasi dalam hubungan, mengatakan, “Jika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut.” Menurut Cleveland Clinic, meluapkan emosi dapat membantu menghadapi masalah, tetapi oversharing yang berlangsung terus-menerus dan tidak memberi ruang bagi orang lain dapat berdampak pada hubungan.

Selain orang yang mengeluh, pendengar juga dapat terkena dampaknya. Psychology Today mengutip sejumlah studi yang menunjukkan bahwa mendengarkan keluhan secara terus-menerus dapat memperburuk suasana hati. Bahkan, orang yang menyampaikan keluhan belum tentu merasa lebih baik setelah mengulang masalahnya.

Bedakan curhat dan terjebak dalam keluhan

Mengeluh bukan sesuatu yang harus dihentikan sepenuhnya. Membicarakan masalah kepada orang yang dipercaya dapat membuat seseorang merasa didengar dan lebih terhubung. Yang perlu diperhatikan adalah pola serta tujuan keluhan tersebut.

Cannity menyarankan agar seseorang menilai apakah keluhan membantu memahami masalah atau justru memperbesar frustrasi. Terapis Sarah Close juga menyarankan pertanyaan setelah seseorang selesai bercerita: apakah dirinya merasa lebih dipahami dan memperoleh kejelasan, atau kembali masuk ke lingkaran frustrasi yang sama?

Pertanyaan itu dapat membantu mengubah keluhan menjadi langkah awal untuk memahami perasaan dan menentukan tindakan berikutnya, bukan sekadar mengulang masalah tanpa penyelesaian.

Source link