Anak muda di Indonesia semakin frustasi dengan kondisi ekonomi yang sulit, lapangan kerja yang terbatas, biaya pendidikan yang tinggi, dan gaji yang rendah. Fenomena ini tercermin dalam Tagar #KaburAjaDulu yang viral di media sosial. Dr. Muhammad Yorga Permana, Ketua Dewan Pembina Indonesia Juara Foundation, dan Dosen Peneliti Tenaga Kerja di SBM ITB, menilai bahwa ketidakpuasan ini bukan hanya tren sesaat, tetapi merupakan cerminan dari kondisi ekonomi dan sosial yang terus memburuk bagi generasi muda.
Yorga mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendorong anak muda mencari peluang di luar negeri. Pertama, kebijakan pemerintah yang dianggap tidak menciptakan lapangan kerja yang cukup. Kedua, kesempatan kerja yang semakin meningkat di luar negeri. Dan ketiga, kesiapan anak muda dalam menghadapi dunia kerja menjadi faktor penting.
Saat ini, kondisi pasar kerja Indonesia menghadapi tantangan serius dengan tingginya angka pengangguran dan PHK yang terus meningkat. Program pemerintah yang dipromosikan di media sosial dirasa kurang meyakinkan anak muda, yang menginginkan kebijakan nyata dengan dampak yang dirasakan langsung.
Meskipun bekerja di luar negeri bisa menjadi solusi, Yorga menekankan pentingnya persiapan matang dan keterampilan yang diperlukan. Terlebih lagi, jika Indonesia ingin mencapai target menjadi negara maju pada 2045. Penekanan pada peningkatan keterampilan digital, bahasa Inggris, dan kepercayaan diri juga disorot sebagai hal yang penting bagi generasi muda.
Pada akhirnya, tagar #KaburAjaDulu bukan hanya keluhan semata, melainkan realitas yang dihadapi generasi muda Indonesia saat ini. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi, namun dengan persiapan dan keterampilan yang tepat, anak muda bisa menghadapi tantangan di dunia kerja dengan lebih baik.





