Negara Peduli Anak: Gizi, Kesehatan, Sekolah Layak

by -204 Views

Negara Peduli Anak: Gizi, Kesehatan, Sekolah Layak

Hari Anak Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Pemerintah ingin momentum itu berubah menjadi kerja nyata yang langsung menyentuh kebutuhan dasar anak-anak Indonesia. Dari gizi, kesehatan, hingga fasilitas belajar, Presiden Prabowo Subianto disebut mendorong kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat fondasi tumbuh kembang generasi muda.

Tiga Program yang Langsung Menyasar Anak

Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Dedek Prayudi, menyebut pemerintah telah menyiapkan tiga program utama yang berkaitan langsung dengan anak-anak, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan Revitalisasi Sekolah. Ketiganya diposisikan sebagai langkah konkret, bukan sekadar program simbolik yang hadir saat peringatan Hari Anak Nasional.

Menurut Dedek, MBG tidak dimaksudkan hanya untuk mengenyangkan perut anak-anak. Fokus utamanya adalah memastikan mereka memperoleh asupan gizi dan nutrisi harian yang cukup agar bisa belajar dan tumbuh dengan lebih baik.

Masalah Sarapan Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan persoalan yang masih cukup serius: 60 persen atau 3 dari 5 anak diketahui tidak sarapan sebelum berangkat sekolah. Kebiasaan ini bukan perkara sepele. Anak yang berangkat tanpa makan pagi berisiko mengalami sulit fokus, cepat lelah, dan kurang maksimal saat mengikuti pelajaran.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tidak sarapan juga dapat memicu anemia defisiensi zat besi. Kondisi ini berpotensi berdampak pada kemampuan belajar, bahkan disebut bisa menurunkan IQ anak. Karena itu, MBG dipandang sebagai salah satu intervensi penting untuk memutus rantai masalah gizi sejak dini.

Pemeriksaan Kesehatan dan Sekolah yang Lebih Layak

Selain soal makanan, pemerintah juga menyiapkan Cek Kesehatan Gratis bagi anak-anak sekolah. Layanan ini mencakup pemeriksaan tinggi badan, berat badan, pendengaran, hingga kesehatan mental. Program tersebut dijalankan dengan merujuk pada amanat konstitusi yang menegaskan hak masyarakat, termasuk anak-anak, atas layanan kesehatan.

Di sisi lain, Revitalisasi Sekolah menjadi program ketiga yang tak kalah penting. Pemerintah menargetkan renovasi 11.440 sekolah pada 2025 dengan dukungan anggaran Rp20 triliun dalam APBN 2025. Langkah ini diambil sebagai respons atas masih banyaknya sekolah rusak di berbagai daerah.

Fokus ke Wilayah yang Paling Rentan

Perbaikan sekolah akan diprioritaskan untuk daerah terdepan, terluar, tertinggal, serta wilayah padat penduduk. Dengan pendekatan itu, pemerintah ingin memastikan anak-anak belajar di ruang yang lebih aman dan layak, bukan di tengah bangunan yang sudah tidak memadai. Tiga program ini pada akhirnya menunjukkan bahwa perhatian negara terhadap anak tidak cukup berhenti pada ucapan, melainkan harus hadir dalam kebijakan yang terasa langsung di rumah, di sekolah, dan di meja makan mereka.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.