Retaknya Dualisme PBNU, PCNU Banyuwangi: Konsekuensi Konfercab

by -148 Views

Banyuwangi — Ketegangan internal di tubuh Nahdlatul Ulama Banyuwangi kembali mengemuka menjelang rencana pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) NU pada 7 Januari 2026 di Kampus UIMSYA Blokagung. Sejumlah pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) setempat memang telah memberi persetujuan kepada kelompok internal PCNU versi kubu Kramat untuk menggelar agenda tersebut. Namun, persetujuan itu disertai satu garis batas yang tegas: Konfercab tidak boleh dijadikan panggung untuk menyerang PCNU kubu Rais Aam yang belum menyatakan sepakat.

Rapat Gabungan Tegaskan Batas Sikap

Sikap itu disampaikan dalam rapat gabungan PCNU dan MWC NU Banyuwangi yang berlangsung di Aula Kantor PCNU Banyuwangi, Jumat sore (02/01/2026). Forum tersebut dipimpin Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH. Muhdhor Atim dan KH. Ali Hasan Kafrawi. Hadir pula Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi Kyai Sunandi Zubaidi, Sekretaris PCNU Abdul Aziz, serta sejumlah fungsionaris PCNU dari kubu Rais Aam.

Dalam pertemuan itu, suasana rapat disebut cukup dinamis karena beberapa Ketua MWC NU menyampaikan keberatan atas langkah sebagian pengurus internal PCNU yang dinilai terlalu tergesa-gesa mendorong pelaksanaan Konfercab. Mereka menyoroti dasar yang dipakai, yakni instruksi PBNU versi kubu Kramat yang tertuang dalam surat bertandatangan KH. Miftah Faqih dan Faisal Saimema.

Konfercab Diizinkan, Tapi Tak Untuk Memperuncing Konflik

Meski memberi lampu hijau terhadap penyelenggaraan konferensi, para pengurus di Banyuwangi menegaskan bahwa forum organisasi seharusnya tidak berubah menjadi alat untuk memperlebar retak di internal NU. Mereka meminta agar pelaksanaan Konfercab tetap berada dalam koridor organisasi dan tidak dipakai untuk mendeligitimasi pihak lain yang masih berbeda pandangan.

Dengan sikap itu, rapat gabungan sebenarnya mengirim pesan yang jelas: proses organisasi boleh berjalan, tetapi perselisihan di tingkat kepengurusan tidak boleh dibiarkan berubah menjadi saling menjatuhkan. Bagi para pengurus wilayah bawah, yang dibutuhkan bukan sekadar penetapan agenda, melainkan juga kehati-hatian agar keputusan yang diambil tidak menambah panjang dualisme yang sudah terasa di tubuh NU Banyuwangi.

Source link