Makan Mie Instan Setiap Hari, Amankah? Ini Kata Dokter

by -74 Views

Mi instan boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak disarankan menjadi menu harian. Kandungan natrium, lemak, dan energi yang relatif tinggi, sementara serat, vitamin, mineral, serta proteinnya terbatas, membuat makanan ini perlu ditempatkan secara proporsional dalam pola makan.

Natrium menjadi perhatian utama

Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Juwalita Surapsari, mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi mi instan setiap hari. Menurut dia, mi instan tetap boleh dikonsumsi, tetapi frekuensinya perlu dibatasi dan harus disesuaikan dengan makanan lain yang disantap pada hari yang sama.

“Kita boleh-boleh saja mengonsumsi produk ini namun tidak setiap hari dan harus memperhitungkan makanan lainnya,” kata Juwalita kepada ANTARA.

Salah satu pertimbangannya adalah kandungan garam atau natrium. Konsumsi mi instan sebaiknya tidak dibarengi makanan olahan lain yang juga cenderung tinggi garam, seperti sosis dan bakso.

Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, dalam keterangan kepada ANTARA pada Februari 2026, menyebut mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih dari 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut sudah mengambil porsi besar dari batas asupan natrium harian.

Asupan natrium yang terlalu tinggi dan berlangsung terus-menerus menjadi perhatian khusus, terutama bagi orang dengan tekanan darah tinggi atau kondisi tertentu yang sensitif terhadap natrium. Karena itu, label kandungan gizi pada kemasan perlu diperhatikan, khususnya ketika seseorang juga telah mengonsumsi makanan tinggi garam pada hari yang sama.

Perlu dihitung sebagai sumber karbohidrat

Mi instan juga tidak sebaiknya dianggap sebagai satu-satunya makanan dalam satu kali santap. Kepala Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Fitri Hudayani, menjelaskan bahwa mi instan termasuk kelompok makanan pokok, bersama nasi, roti, bihun, umbi-umbian, dan sereal.

Menurut Fitri, satu bungkus mi instan tanpa minyak memiliki nilai gizi yang kurang lebih setara dengan 150 gram nasi. Artinya, konsumsi mi instan perlu diperhitungkan bersama asupan makanan pokok lain agar jumlah energi dan karbohidrat tidak berlebihan.

Mi instan juga memiliki kandungan serat, vitamin, mineral, dan protein yang relatif terbatas. Karena itu, menambahkan bahan makanan lain dapat membuat komposisi satu porsi menjadi lebih lengkap. Sayuran seperti sawi, bayam, wortel, atau brokoli dapat digunakan sebagai sumber tambahan serat, vitamin, dan mineral. Telur, tahu, tempe, atau sumber protein lain juga bisa ditambahkan.

Dokter spesialis gizi klinik dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Luciana Sutanto, mengingatkan agar penggunaan bumbu tidak berlebihan.

“Jika bumbu yang dimasukkan jumlah atau kadarnya berlebihan … tentu akan menimbulkan masalah kesehatan,” kata Luciana kepada ANTARA.

Ia menyarankan mi dimasak sesuai petunjuk pada kemasan, kemudian dilengkapi sayuran dan sumber protein. Dengan cara itu, mi instan tetap dapat dikonsumsi sesekali tanpa menjadikannya menu yang hadir setiap hari.

Source link