7 Alasan Memilih Bike to Work untuk Berangkat Kerja

by -74 Views

Bersepeda ke kantor semakin dipandang sebagai pilihan mobilitas harian, bukan semata kegiatan olahraga atau aktivitas akhir pekan. Di tengah berkembangnya skena sepeda perkotaan, sebagian pekerja mulai menggunakan sepeda untuk menempuh perjalanan dari rumah ke tempat kerja, baik secara penuh maupun dengan menggabungkannya bersama transportasi umum.

Tren tersebut masih terlihat pada 2026. Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia terus mengampanyekan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari. Dalam peringatan Hari Sepeda Sedunia 2026, komunitas itu menggelar kegiatan bersepeda sekaligus mendorong sepeda sebagai alternatif transportasi di perkotaan.

Dari olahraga hingga solusi mobilitas

Salah satu alasan orang memilih bike to work adalah kesempatan untuk tetap aktif tanpa harus menyediakan waktu khusus untuk berolahraga. Perjalanan menuju kantor dapat sekaligus menjadi aktivitas fisik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut berjalan kaki dan bersepeda sebagai bentuk active mobility yang berpotensi memberi manfaat bagi kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Temuan dalam penelitian mengenai tren pesepeda di DKI Jakarta yang diterbitkan Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota pada 2025 juga menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental menjadi salah satu motif utama pekerja menggunakan sepeda ke tempat kerja.

Sepeda juga dapat menjadi alternatif menghadapi kemacetan, terutama untuk jarak yang masih memungkinkan ditempuh dengan mengayuh. Pengguna tidak harus meninggalkan transportasi umum sepenuhnya. Sepeda dapat dipakai untuk mencapai stasiun atau menjangkau bagian tertentu dari perjalanan, lalu perjalanan dilanjutkan dengan moda transportasi lain.

Karena itu, konektivitas menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan bike to work. Pada Agustus 2026, B2W Indonesia mendorong agar jalur sepeda terhubung dengan kawasan permukiman, kawasan bisnis, dan stasiun transit.

Faktor biaya turut memengaruhi pilihan tersebut. Sepeda tidak memerlukan bahan bakar, sedangkan pengeluaran rutinnya umumnya berkaitan dengan perawatan, penggantian komponen yang aus, dan perlengkapan keselamatan. Meski begitu, tingkat penghematan bergantung pada jarak rumah ke kantor, kondisi jalan, kebutuhan membawa barang, serta fasilitas yang tersedia. Karena itu, bike to work tidak selalu harus dilakukan setiap hari.

Bagian dari gaya hidup dan keseharian

Bagi sebagian pekerja, bersepeda ke kantor juga telah menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya komunitas. Aktivitas ini terhubung dengan isu lingkungan, kualitas udara, serta kebutuhan akan ruang jalan yang aman. Pesepeda dapat berangkat bersama, bertemu di titik tertentu sebelum bekerja, atau mengikuti kegiatan setelah jam kantor.

Rutinitas tersebut sekaligus membantu mengurangi waktu duduk yang terlalu panjang. Pekerjaan kantoran sering membuat seseorang berada dalam posisi duduk selama berjam-jam, sementara perjalanan pergi dan pulang dengan sepeda dapat menjadi kesempatan untuk menambah aktivitas fisik. WHO mencatat aktivitas fisik rutin membantu menjaga kesehatan dan menurunkan risiko sejumlah penyakit tidak menular, sedangkan perilaku sedentari berlebihan berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan.

Ada pula kepuasan psikologis ketika tiba di kantor dengan sepeda. Perjalanan memungkinkan seseorang menikmati suasana jalan, melihat lingkungan sekitar lebih dekat, serta memiliki waktu sebelum dan sesudah bekerja untuk berjarak dari rutinitas. Dalam policy brief 2026, WHO menyebut mobilitas aktif berpotensi mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan, meski manfaat itu akan lebih optimal jika tersedia infrastruktur yang aman.

Perubahan kultur sepeda turut memperluas alasan orang menggunakannya untuk bekerja. Sepeda kini hadir dalam beragam komunitas, mulai dari road bike, MTB, sepeda lipat, fixie, hingga kelompok yang berfokus pada transportasi harian. Perkembangannya juga bersinggungan dengan teknologi dan media sosial, termasuk kegiatan Strava Art pada 2026 yang memadukan perjalanan bersepeda dengan kreativitas digital.

Source link